Sial. Ibu meremukkan mimpi nikmat itu. Aku pun menjadi malas untuk
bangun. Ku temukan benda lengket pada celana dalamku, seperti dahak.
Aku segera ke kamar mandi dan membilasnya dengan air. Ku lanjutkan ku
guyur tubuhku.
Siang begitu cerah, matahari tak begitu terik. Ku langkahkan kaki ke
warung mbak Kanah, jaraknya tak begitu jauh dari rumahku. Aku lebih
sering jajan bukan karena pemborosan, melainkan ibu tidak pernah
masak.
"Ibumu tak masak lagi, Fan?" kata mbak Kanah sambil menyodorkan buku menu.
Tidak ada menu baru. Kenapa harus di sodorkan. Terkadang ia
menyebalan. Namun, sering menyenangkan. Tulisan bon sampai memanjang
pun tak ia masalahkan. Luar biasa.
"Seperti biasa saja, mbak. Tapi kali ini tidak pakai sambal"
Aku sering memesan nasi dengan lauk ikan laut dan sambal. Untuk
minuman aku lebih memilih es jeruk, terkadang hangat.
Tak lama pesanan datang. Ku kernyitkan kening ke mbak Kanah sebagai
tanda hari ini ngutang.
Ku temukan cicak sedang menempel pada tembok warung. Mungkin lapar,
aku lemparkan satu nasi ke cicak itu. Bukan sigap memakan, melainkan
lari tunggang langgang.
"Konyol diriku" pikirku. Memberi makan cicak yang bukan makanannya.
Tapi di lain itu aku berpikir barangkali si cicak mau. Manusia pun
bukan hanya nasi, roti, thiwul sebagai makanan pokoknya. Kayu pun ia
makan, aspal, kertas, tanah, besi dan logam sebangsanya.
"Ngeri" pikirku
Apakah kerasnya gigi manusia dapat menggigit dan mengunyah itu? Tapi
ku rasa Tuhan pun memberi otak kepada manusia untuk digunakan.
Ataukah bukan dengan mulut mereka memakannya? Wuah
bangun. Ku temukan benda lengket pada celana dalamku, seperti dahak.
Aku segera ke kamar mandi dan membilasnya dengan air. Ku lanjutkan ku
guyur tubuhku.
Siang begitu cerah, matahari tak begitu terik. Ku langkahkan kaki ke
warung mbak Kanah, jaraknya tak begitu jauh dari rumahku. Aku lebih
sering jajan bukan karena pemborosan, melainkan ibu tidak pernah
masak.
"Ibumu tak masak lagi, Fan?" kata mbak Kanah sambil menyodorkan buku menu.
Tidak ada menu baru. Kenapa harus di sodorkan. Terkadang ia
menyebalan. Namun, sering menyenangkan. Tulisan bon sampai memanjang
pun tak ia masalahkan. Luar biasa.
"Seperti biasa saja, mbak. Tapi kali ini tidak pakai sambal"
Aku sering memesan nasi dengan lauk ikan laut dan sambal. Untuk
minuman aku lebih memilih es jeruk, terkadang hangat.
Tak lama pesanan datang. Ku kernyitkan kening ke mbak Kanah sebagai
tanda hari ini ngutang.
Ku temukan cicak sedang menempel pada tembok warung. Mungkin lapar,
aku lemparkan satu nasi ke cicak itu. Bukan sigap memakan, melainkan
lari tunggang langgang.
"Konyol diriku" pikirku. Memberi makan cicak yang bukan makanannya.
Tapi di lain itu aku berpikir barangkali si cicak mau. Manusia pun
bukan hanya nasi, roti, thiwul sebagai makanan pokoknya. Kayu pun ia
makan, aspal, kertas, tanah, besi dan logam sebangsanya.
"Ngeri" pikirku
Apakah kerasnya gigi manusia dapat menggigit dan mengunyah itu? Tapi
ku rasa Tuhan pun memberi otak kepada manusia untuk digunakan.
Ataukah bukan dengan mulut mereka memakannya? Wuah
Ku Telanjangi Kau|Bagian Dua
4/
5
Oleh
Ikunesode
