Saat Idul Adha tiba, banyak tercium bau masakan daging. Mungkin
masakan daging sapi, kambing atau pun lainnya. Pagi hari aku
mengantarkan ayahku yang sore kemarin mengantarkan adikku menuju
pesantrennya sehingga sekalian mampir ke tempatku. Lebih dari lima
kilometer dia berjalan lantasan tak ada angkutan karena malam telah
tiba.
Sesampai di rumah, ibu membuatkanku minum tanpa ku suruh. Segelas teh
hangat. Namun, sedikit aku tak suka karena terlalu manis bagi lidahku.
Kemudian ku raih buku dari tas kecil yang masih terkalung di leherku.
Sebuah buku catatan harianku. Mulai ku tarikan penaku ke lembar-lembar
kertas. Terkadang ku tengok handphone sekedar mengecek SMS dan e-mail.
Tak nampak pesan baru pada SMS. Namun, ada dua pesan baru pada e-mail.
Sebuah kiriman dari situs langgananku. Kemudian aku melayang bersama
tulisan-tulisan di buku. Jika moodku mulai memburuk, ku tengok koran
harian dari ponselku.
Muncul wanita tua dengan anak kecil di punggungnya. Tanpa selendang.
Nenek bersama Wildan, cucunya.
"Pulang kapan, Nak?" tanya nenek padaku
"Baru saja. Sekitar tiga puluh menit yang lalu" jawabku dengan sedikit
lemas karena reaksi darinya tidak begitu mengenakkan saat hampir dua
bulan aku tak pulang.
Raut wajahnya tidak begitu menyenangkan. Ia mencari ayahku, menanyakan
apakah mau menengok kambing yang akan ia beli. Dia sangat membenci
sifat yang keduniaan. Seperti saat ku petik gitar. Dia sangat
membenci. Dan kini, aku menulis dia pun benci.
Aku pasang wajah dingin saja. Mungkin dia hanya belum tahu apa itu
hidup. Tak jarang aku membenci tingkahnya. Mungkin orang lain pun
tidak menyukai bila tidak umum dengan apa yang orang umum lakukan.
Sungguh. Semoga kau segera sadar.
masakan daging sapi, kambing atau pun lainnya. Pagi hari aku
mengantarkan ayahku yang sore kemarin mengantarkan adikku menuju
pesantrennya sehingga sekalian mampir ke tempatku. Lebih dari lima
kilometer dia berjalan lantasan tak ada angkutan karena malam telah
tiba.
Sesampai di rumah, ibu membuatkanku minum tanpa ku suruh. Segelas teh
hangat. Namun, sedikit aku tak suka karena terlalu manis bagi lidahku.
Kemudian ku raih buku dari tas kecil yang masih terkalung di leherku.
Sebuah buku catatan harianku. Mulai ku tarikan penaku ke lembar-lembar
kertas. Terkadang ku tengok handphone sekedar mengecek SMS dan e-mail.
Tak nampak pesan baru pada SMS. Namun, ada dua pesan baru pada e-mail.
Sebuah kiriman dari situs langgananku. Kemudian aku melayang bersama
tulisan-tulisan di buku. Jika moodku mulai memburuk, ku tengok koran
harian dari ponselku.
Muncul wanita tua dengan anak kecil di punggungnya. Tanpa selendang.
Nenek bersama Wildan, cucunya.
"Pulang kapan, Nak?" tanya nenek padaku
"Baru saja. Sekitar tiga puluh menit yang lalu" jawabku dengan sedikit
lemas karena reaksi darinya tidak begitu mengenakkan saat hampir dua
bulan aku tak pulang.
Raut wajahnya tidak begitu menyenangkan. Ia mencari ayahku, menanyakan
apakah mau menengok kambing yang akan ia beli. Dia sangat membenci
sifat yang keduniaan. Seperti saat ku petik gitar. Dia sangat
membenci. Dan kini, aku menulis dia pun benci.
Aku pasang wajah dingin saja. Mungkin dia hanya belum tahu apa itu
hidup. Tak jarang aku membenci tingkahnya. Mungkin orang lain pun
tidak menyukai bila tidak umum dengan apa yang orang umum lakukan.
Sungguh. Semoga kau segera sadar.
Nenekku: Dia Membenci Aku Menulis
4/
5
Oleh
Ikunesode
